Halal.Wahdah.Or.Id — Berbicara tentang doa. Jangan kira dia hanya perkara ibadah saja tanpa ada hubungannya dengan apa yang menjadi kebiasaan kehidupan kita sehari-hari seperti makan, minum serta berpakaian.
Dan berbicara tentang makan, minum serta berpakaian, jangan juga kita mengira bahwa itu adalah perkara yang biasa saja, yang tidak ada hubungannya dengan doa.
Doa dan apa yang ada pada badan kita, di luar badan dan di dalamnya, yakni yang kita makan dan minum, itu memiliki peran penting dalam terkabulnya doa yang kita panjatkan.
Hal ini ditegaskan dalam hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Dalam hadis tersebut disebutkan:
“Sesungguhnya Allah Ta’ala itu baik (thayyib), tidak menerima kecuali yang baik (thayyib). Dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada kaum mukminin seperti apa yang diperintahkan kepada para Rasul.
Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal shalih.’ (QS. Al-Mu’minun: 51).
Dan Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepadamu.’ (QS. Al-Baqarah: 172).
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan seseorang yang lama bepergian; rambutnya kusut, berdebu, dan menengadahkan kedua tangannya ke langit, lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, wahai Rabbku.’ Padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia dikenyangkan dari yang haram, bagaimana mungkin doanya bisa terkabul.” (HR. Muslim)
Doa Tidak Terlepas dari Halal dan Haram
Dari hadis ini kita memahami bahwa Allah adalah Dzat yang Maha Baik. Tidak menerima kecuali yang baik. Segala amal ibadah, termasuk doa, hanya diterima oleh Allah jika disertai dengan kehalalan dan kebaikan.
Sehingga, siapa pun yang ingin doanya dikabulkan oleh Allah, maka ia harus memperhatikan apa yang ia konsumsi, baik makanan, minuman, maupun pakaian.
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadis ini merupakan dalil bahwa mengonsumsi makanan dan minuman yang halal adalah sebab terkabulnya doa, sedangkan yang haram adalah penghalang.
Seseorang mungkin secara lahir terlihat sangat tawadhu’ dan bersungguh-sungguh dalam berdoa.
Dia menengadahkan tangannya ke langit, bermunajat dengan penuh kerendahan, bahkan dalam keadaan safar yang secara syar’i adalah salah satu waktu mustajab.
Namun jika tubuhnya dibesarkan dari makanan haram, maka hal itu menjadi penghalang besar dalam dikabulkannya doa.
Pengaruh Makanan Terhadap Hati dan Amal
Ibnu Rajab dalam Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam menyebutkan bahwa makanan yang halal berpengaruh besar terhadap ketundukan hati kepada Allah dan kekhusyukan dalam ibadah.
Sebaliknya, makanan haram mengeraskan hati, menjauhkan dari rahmat Allah, dan memadamkan cahaya iman dalam jiwa.
Karena itu, tidak mengherankan jika para salaf sangat berhati-hati dalam perkara makanan.
Diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah memerintahkan untuk mengembalikan sebutir kurma karena ia tidak yakin itu miliknya secara halal.
Makanan Halal Menjadi Sebab Diterimanya Amal
Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan hubungan erat antara makanan yang halal dan diterimanya amal, termasuk doa.
Karena itu, seseorang tidak cukup hanya bersungguh-sungguh dalam berdoa atau beramal tanpa membersihkan apa yang ia konsumsi.
Begitu pentingnya perkara ini, sampai-sampai Allah menyebutkan perintah kepada para rasul dan kaum beriman dalam dua ayat yang berbeda, namun dengan substansi serupa: “Makanlah dari yang thayyib” dan “Beramallah yang shalih”.
Hal ini menunjukkan keterkaitan antara makanan halal dan amal shalih.
Konsumsi Halal Sebagai Bentuk Ketaatan
Menjaga diri dari makanan dan minuman haram bukan hanya untuk keberkahan dunia, tetapi juga bentuk nyata dari ketaatan kepada Allah.
Hal ini dijelaskan oleh Syaikh Sa’ad Asy-Syatsri dalam Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah Al-Mukhtashar, bahwa pengaruh makanan haram itu sistemik; bukan hanya merusak fisik, tapi juga spiritual, mental, dan sosial.
Banyak orang mengeluhkan kenapa doa mereka tak kunjung dijawab, padahal mereka merasa telah berdoa dengan sungguh-sungguh.
Mungkin mereka lupa meninjau kembali apa yang mereka makan, dari mana harta yang mereka peroleh, dan ke mana uang itu mereka belanjakan.
Harta Haram dan Generasi yang Rusak
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ah Al-Fatawa menjelaskan bahwa harta haram tidak hanya berdampak pada individu yang memakannya, tetapi bisa menurun pengaruh buruknya kepada keturunannya.
Anak-anak yang diberi makan dari harta haram, akan tumbuh dalam keadaan yang sulit menerima kebenaran, sulit tunduk kepada Allah, bahkan bisa terjerumus dalam berbagai penyimpangan.
Oleh karena itu, menjaga diri dari yang haram adalah bagian dari menjaga keturunan. Dan sebaliknya, keturunan yang baik, lahir dari makanan yang halal dan berkah.
*****
Doa bukan sekadar ibadah lisan, tapi ia terkait erat dengan keimanan, keikhlasan, dan ketaatan secara menyeluruh. Dan makanan halal adalah bagian utama dari ketaatan itu.
Jangan harap doa terkabul jika tubuh kita dibesarkan dari yang haram.
Berhati-hatilah dalam memilih makanan, sumber harta, serta apa yang masuk ke tubuh dan keluarga kita. Karena semua itu bukan hanya mempengaruhi kesehatan fisik, tetapi juga spiritual dan keberkahan hidup kita.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang hanya memakan yang halal dan baik, dan menerima doa-doa yang kita panjatkan dengan tulus.
Oleh: Absaid
Referensi:
- Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, Imam An-Nawawi
- Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, Ibnu Rajab Al-Hambali
- Majmu’ah Al-Fatawa, Ibnu Taimiyah
- Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin
- Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah Al-Mukhtashar, Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy-Syatsri

