JAKARTA, Halal.Wahdah.Or.Id — Jumlah kelas menengah di Indonesia terus menurun dalam lima tahun terakhir, memicu kekhawatiran terhadap keberlanjutan pertumbuhan ekonomi nasional yang sangat bergantung pada konsumsi rumah tangga.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), populasi kelas menengah turun dari 57,33 juta jiwa pada 2019 menjadi 47,85 juta jiwa pada 2024. Penurunan ini berdampak langsung pada konsumsi domestik, yang selama ini menjadi pendorong utama Produk Domestik Bruto (PDB).
Pada kuartal II 2025, konsumsi rumah tangga tercatat menyumbang 54,25 persen terhadap PDB, namun pertumbuhannya melambat hingga di bawah 5 persen.
Direktur Pengembangan Big Data Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto menilai pemerintah belum memberikan perhatian memadai kepada kelompok kelas menengah, meskipun perannya sangat strategis.
“Daya beli kelas menengah perlu diperkuat melalui insentif seperti diskon tarif listrik, subsidi transportasi umum, atau pengurangan beban pajak,” kata Eko Senin (18/8).
Menurutnya, peningkatan daya beli akan berdampak langsung pada konsumsi rumah tangga dan membantu pencapaian target pertumbuhan ekonomi sebesar 5 persen.
Eko juga mengingatkan bahwa ketidakhadiran kebijakan yang berpihak pada kelas menengah dapat mendorong lebih banyak keluarga terjerumus ke dalam kemiskinan, yang pada akhirnya melemahkan permintaan dalam negeri.
“Tanpa insentif, jumlah kelas menengah bisa terus menyusut, demikian juga kontribusinya terhadap PDB,” ujarnya.
Ia turut menyoroti pentingnya desain program perlindungan sosial bagi rumah tangga berpenghasilan rendah agar tidak hanya bersifat bantuan jangka pendek, tetapi juga mampu mendorong kemandirian ekonomi melalui pelatihan keterampilan, akses permodalan, dan pembukaan peluang usaha.
Sinyal pelemahan konsumsi kelas menengah turut tercermin dari kinerja sektor otomotif. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penurunan penjualan mobil sebesar 8,6 persen pada semester I 2025, dari 410.020 unit menjadi 374.740 unit dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Target tahunan yang semula ditetapkan sebesar 900.000 unit pun kini sedang dievaluasi ulang.
Ketua Umum Gaikindo Yohannes Nangoi menyebutkan bahwa lemahnya daya beli, terutama terhadap barang non-esensial seperti kendaraan, mencerminkan tekanan ekonomi yang dialami masyarakat kelas menengah.
Penurunan transaksi pada pameran otomotif terbesar di Indonesia, GIIAS 2025, meskipun jumlah pengunjung meningkat dibandingkan tahun lalu, menunjukkan kehati-hatian konsumen di tengah situasi ekonomi yang kurang menggembirakan.
“Penurunan penjualan kendaraan di paruh pertama tahun ini menandakan tantangan ekonomi yang nyata. Konsumen semakin berhati-hati dalam membelanjakan uangnya,” ujar Nangoi.
Penurunan konsumsi ini menjadi sinyal peringatan bagi perekonomian nasional, mengingat lebih dari separuh struktur PDB Indonesia masih bergantung pada daya beli masyarakat.
Sumber: jakartaglobe.id

